h1

Khalifatullah

May 7, 2015

Beberapa hari pemberitaan tentang sabda tama Ngarso Dalem Sri SUltan Hamengku Buwono X mengandung pelemik di lingkungan keluarga keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Menarik ulasan dan keterangan dari dari bapak Achmad Muchsin Kamaludiningrat dimuat pada harian KR dengan judul Gelar Khalifatullah Merupakan Satu Kesatuan. Untuk bisa dibaca ulang YOGYA (KRjogja.com) – Sekum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY KRT Achmad Muchsin Kamaludiningrat mengatakan, perihal sabdaraja yang dikeluarkan Raja Kasultanan Yogyakarta Sri Sultan HB X tentang penghapusan gelar Khalifatullah, dirinya enggan memberikan statmen, karena akan menimbulkan polemik. Namun demikian, gelar Khalifatullah tersebut merupakan satu kesatuan dari “Ngerso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah”.

Jadi bagi seorang Sultan harus memiliki 10 kreteria (kualifikasi), hal itu sesuai dalam UU No 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam UU No 13/2012 pasal 1 butir 4 menyebutkan ‘Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat”, selanjutnya disebut “kesultanan” adalah warisan budaya bangsa yang berlangsung turun-temurun, sejak Sultan Agung, Sultan HB I hingga HB X sekarang ini.

Achmad Muhsin yang ditemui KRjogja.com di kediamannya, Kauman, Yogya, Selasa (5/5/2015) menjelaskan, tentang pemahaman arti daripada gelar tersebut adalah sebagaimana telah dijadikan materi pokok pawiyatan bagi abdi dalam Kraton. Ke-10 kreteria jika menjadi Sultan adalah, 1. Ngarso Dalem: Yang dijadikan junjungan, pemuka, pembesar yang dijunjung tinggi. 2. Sampeyan Dalem: Yang diikuti langkahnya, dijadikan teladan, dijadikan tuntunan. 3. Ingkang Sinuwun: Yang dimulyakan dan selalu dimohon petunjuk dan kebaikan jasanya. 4. Kanjeng: Yang sangat dihormati. 5. Sultan: Penguasa (Kata ini disebut dalam Al-Quran 33 kali sebagai isim nakiroh dan 2 kali dimudlofkan pada isim damir. Dan banyak hadits nabi yang menyebutkan kata ini). 6. Hamengku Buwono: Hamangku, Hamengku Hemengkoni jagad. a. Hamanku : Mengedepankan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, lebih banyak memberi daripada menerima. b. Hemenku: Merengkuh semua pihak termasuk pihak yang tidak menyukainya, Ber budhi bowo laksono. c. Hamengkoni: Ngemong, menjadi suh terhadap semua rakyat. Ketiga sebutan tersebut dapat disingkat seorang sultan yang sekarang menjadi Gubernur adalah sifat watak”Gung binatoro, ing ngarso sung tulodo, ing mandyo mangun karso, tut wuri handayni”. 7. Senopati ing naglogo: Panglima besar/jihad, jihad besar (akbar) dan jihad kecil. 8. Ngabdurrahman: Meskipun demikian ia tetap menjadi Hamba Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Semua pengabdian dilakukan sebagai pengabdian kepadaNya. 9. Sayidin Panotogomo: Sayid (pembesar, penghulu, bendoro, Yang Dipertuan Agung) dalam menata kehidupan beragama. Dan 10. Khalifatullah: Wakil Allah (pengembang amanat Allah, mandataris Allah di dunia).

“Gelar Sultan ini diawali sejak Sultan Agung, kemudian disempurnakan HB I, peletak dasar Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Gelar ini merupakan sifat dan watak serta karakter kepemimpinanyang dikembangkan oleh Kesultanan, juga sekaligus merupakan visi dan misi kesultanan,” papar KRT Achmad Muchsin Kamaludiningrat. (Rar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: