h1

Tahun 2014 untuk Madrasah

February 7, 2014

Perkembangan dan kemajuan madrasah yang tidak diragukan lagi sampai saat ini, sebuah institusi lembaga pendidikan di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah menunjukkan peran sertanya dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter, berbudaya dan berakhlaqul karimah. Kankemenag Kabupaten Sleman pada hari ini, Jum’at, 7 Pebruari 2014 mengundang semua kepala RA, MI, MTs, dan MA baik negeri maupun swasta se-Kabupaten Sleman dalam rangka musyawarah persiapan lounching madrasah tahun 2014 di Kabupaten Sleman dalam Tahfidz Qur’an. Rencana lonching dilaksanakan bulan pebruari tahun 2014 ini dengan menghadirkan publik figur nasional di masjid agung Sleman. Diawali pra pembukaan Kasi Dikmad Kankemenag Kab. Sleman bapak Drs. H. Abdul Haris Nufika, M.Pd. yang memaparkan bahwa murid di Kab. Sleman ketika SMP nilainya bagus tetapi nilai pelajaran di SMA nilainya jeblok dari hasil Pusat Data Statistik Pendidikan. Sehingga masyarakat Sleman yang indeks ekonomi kesehatan dan pendidikan amat tinggi dan penduduk Sleman mobilitasnya amat tinggi sehingga yang tetap belajar di wilayah Sleman dari hasil angket hanya 41,1 % dan 51 % memilih belajar di luar Kabupaten Sleman. Sehingga menurut mereka yang melanjutkan sekolah bahwa sekolah di luar Sleman itu menarik dan bermutu. Bagaimana dengan madrasah di Kabupaten Sleman? Pertanyaan besar yang terbenak pada bapak Kasi Dikmad. Sebab itulah madrasah menjadi tujuan rumah tahfidz Qur’an bagi siswanya atau program Tahfidz menjadi ikon di Madrasah. Dan madrasah destination menjadi rumah tahfidz dengan kelebihan dan kekurangannya, inipun sudah didorong oleh bapak M. Nuh Mendiknas kita. Dengan kegiatan “one day one ayah” atau “one day one juz” atau “one day one lembar” atau “one day one surat pendek”. Dengan ikon madrsah sebagai rumah tahfidz akan di lounching dihadiri oleh seribu tokoh jika tidak meleset menghadirkan ustadz Yusuf Mansur dari Jakarta. Contoh di Sleman Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Taruna Al-Qur’an yang memang boarding dan pengalaman tamat MA 40 siswa sudah hafal 30 juz al-Qur’an. Setelah acara di buka oleh bapak kasi dilanjutkan sambutan bapak Kakankemenag dalam pembinaan untuk merealisasikan gerakan madrasah tahfidz di Kabupaten Sleman. Didampingi oleh ibu Yunatul Mastukhah dalam mempersiapkan diklarasi dari madrasah sebagai rumah tahfidz. Latar belakangnya adalah mesyarakat sekarang yang seakan serba boleh atau permisif. Adanya krisis moral dari beberapa siswa di negara kita dengan contoh shoting siswa sekolah dst dst of the record. Digambarkan seperti suami istri pemanasan oleh bapak Kakankemanag. Ini krisis moral yang dilakukan oleh siswa yang direkam sebagai sebuah permainan seperti di Sawah Besar yang dicontohkan. Sehingga nilai-nilai sakralitas hilang tertelan permisifitas dan pelakunya adalah siswa perempuan yang memakai jilbab. Sebab tidak ada yang menjaga nilai-nilai moralitas pada siswa di negara kita. Dilihat memang beberapa sekolah sudah mentradisikan shalat dhuha apalagi shalat yang wajib. Sekarang di madrasah mencoba membuat grand image bagi madrasah sehingga mungkinkah madrasah mampu menyamai kualitas SMA 3B? Memang madrasah belum mampu menyaingi 3B tetapi madrasah menjadi pilihan masyarakat karena menginginkan anaknya selamat di dunia dan akhirat. Sehingga dengan siswa atau anak yang mampu mengeja al-Qur’an akan tahu dan paham akan adanya dosa. Ibu Nasyiatul Masrukhah waktu menyampaikan dalam persiapan madrasah destination kali ini dan hasil silaturrahmi dengan guru-guru madrasah di seluruh DIY guru-guru madrasah masih belum PD. Sebagaimana dituturkan seorang guru dari Bantul. Dengan informasi yang tanpa batas saat ini semua informasi dapat diterima dan diakses oleh anak-anak didik kita. Sehingga dengan cepat sekali bisa diakses dicontohkan orang tua yang berjilbab tanpa rasa malu melihat anak-anaknya yang tidak berjilbab bahkan membuka auratnya. Disinilah perlu anak akan paham akan ajaran agama seperti anak-anak yang hafal ayat-ayat al-Qur’an. Dan jika itu dibiasakan kepada anak-anak didik kita di madrasah yang meskipun hanya sepuluh menit membaca al-Qur’an ataupun bahkan lebih waktunya akan memberikan nilai tambah di madrasah. Dan jika semua madrasah memiliki program tahfifz akan menyemarakkan dalam membentengi moral peserta didik, dan Sleman mengawali madrasah sebagai rumah tahfidz akan memperkokoh Yogyakarta menjadi serambi Madinah. Contoh lain ditunjukkan shalat dhuha menjadi budaya bagi anak didik di al-Azhar. Dengan harapan madrasah mampu menjadi destinasi pendidikan di Indonesia.

2 comments

  1. Ide untuk menjadikan madrasah sebagai rumah tahfidz yang rencana lounchingnya diagendakan pada hari Ahad, 16 Pebruari 2014 oleh Kemenag RI di gedung Among Rogo Yogyakarta, ide ini awalnya adalah dari kankemenag kab. Sleman kemudian secara cepat dikuatkan oleh kanwil kemenag DIY sehingga lounching Ahad besok melibatkan civitas madrasah se DIY. Semoga dengan menggemakan al-Qur’an di madrasah mampu membendung dan menghindari ekses-ekses negatif yang mungkin timbul di madrasah atau dilakuakan oleh civitas madrasah pada khususnya dan lingkungan kemenag pada umumnya, amin.


  2. Lounching yang direncanakan tanggal 16 Pebruari 2014 ditangguhkan sebab kondisi Yogyakarta sedang menerima limpahan debu vulkanik dari gunung Kelud sejak 14 Pebruari 2014. Sampai saat ini di perjalanan kota Yogyakarta jika cuaca panas masih terlihat debu beterbangan di jalan manakala diterpa kendaraan bermotor. Alhamdulillah dengan berkurangnya debu yang semakin menipis aktifitas kali ini bisa berjalan lancar tidak seperti sebulan yang lalu penuh dengan debu vulkanik berserakan dimana-mana.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: