h1

Perjalanan Panjang sang Ibu Mertua

June 24, 2013

This slideshow requires JavaScript.


Ibu mertua sudah cukup lama bersama penulis dengan penuh perhatian dan pengorbanan dalam bersama mengarungi hidup yang Alhamdulillah di usia senja beliau cukup mendapatkan perhatian dari kami, dan sampai saat ini dalam kondisi sehat wal afiat meski di usia lansia. Sang ibu yang memiliki nama asli Darmosuwito alias Parinem yang penulis tau dari akta atau buku nikah tahun 1961 di kecamatan Ngampilan Yogyakarta dan sampai sekarang ibu mertua hanya mempunyai dua orang anak terdiri seorang putra dan seorang putri. Putri beliau inilah yang penulis sunting sejak tahun 1990. Tulisan ini terilhami oleh perjalanan penulis pada Ahad, 23 Juni 2013, penulis dengan anak sulung, abang ipar dan isteri abang ipar mengantar sang ibu mertua untuk ziarah mendoakan biyung dari ibu di atas batu nisan biyung pada makam di dusun Candi Desa Kleco Kecamatan Weru Sukoharjo Jawa Tengah. Seperti biasanya yang menjadi tempat transit kami adalah rumah paklik H. Rahmadi mantan kepala desa Kleco dua periode, adik kandung sang ibu mertua. Namun rumah paman kosong tidak ada penghuni, kami melanjutkan perjalanan ke dusun Candi ke rumah adik kandung ibu mertua lainnya bulik Ngati istri paklik Mul. Paklik Mul lah yang mengantar kami menunjukkan batu nisan biyung dari ibu mertua untuk ziarah dan mendoakannya. Baru pertama kali ini ibu mertua ziarah ke batu nisan dan mendoakan biyungnya dalam seumur hidup itupun karena nadzar beliau ketika berada di tanah suci dalam nadzarnya manakala Allah memberikan kesehatan beliau sampai pulang kembali ke tanah air ibu mertua akan ziarah mendoakan ke dekat batu nisan biyungnya di makam dusun Candi. Diungkapkan oleh ibu mertua setelah mendoakan bersama di dekat batu nisan biyung. Pada batu nisan biyung tertulis nama Ny. Resodimejo. Entah nama aslinya siapa Ny. Resodimejo ini sebab nama Resodimejo adalah nama suami biyung ibu mertua yang ke dua, sedang bapak dari ibu mertua adalah suami yang pertama dari biyung beliau yang bernama Kyai. Wongsodikromo (Alm) yang batu nisannya bersebelahan dengan batu nisan biyung dari ibu mertua. Anak Kyai. Wongsodemejo-dan biyung ibu mertua yang masih hidup saat ini adalah ibu mertua, paklik H. Rahmadi, dan bulik Ngati. Pengalaman ibu mertua pernah menikah tiga kali, yang pertama tidak memiliki anak bercerai di tahun lima puluhan, menikah yang ke dua menjelang tahun enam puluhan dikaruniai seorang anak laki-laki, dan menikah yang ke tiga kalinya dengan bapak mertua dikaruniai seorang anak perempuan. Saat sekarang dari dua orang anak ibu mertua yang laki-laki (abang ipar) memiliki dua  orang putra dan yang perempuan (isteri) lima anak terdiri empat putra dan satu putri,  jadi cucu dari ibu mertua ada tujuh orang terdiri enam putra dan satu putri. Alhamdulillah di usia senja ibu mertua sekarang dalam kondisi sehat wal afiat yang menurut pengakuannya saat ini umur beliau 88 tahun, tetapi di KTP seumur hidup yang beliau miliki tertulis lahir tahun 1935. Pertemuan kakak beradik ibu mertua dan bulik Ngati menjadi perhatian kami dan tidak lepas dari bidikan kamera kami dan pertemuan terakhir beliau berdua sebelumnya adalah saat ‘Idul Fitri 1433 H, bulik Ngati diantar anak-anak bulik untuk silaturrahmi ke Yogyakarta. Ibu mertua lah yang mengasuh anak-anak penulis ketika penulis bertugas di Kalimantan Barat ketika itu dibantu oleh bapak mertua bapak Atmodiharjo (Alm. yang wafat, 23 Mei 2011 dalam usia 90 tahun). Semua keluarga melihat was-was ketika ibu kami ajak menunaikan ibadah haji dengan mendaftarkan diri bertiga di tahun 2009 dan mendapatkan porsi tahun 2012.  Alhamdulillah sudah selesai hajinya, kalau porsinya tahun 2013 tentu akan terkena penundaan keberangkatan sebab usia ibu dan di tanah suci memerlukan bantuan kursi roda atau di dorong dalam thawaf dan sa’i. Pemeriksaan kesehatan ibu mertua cukup panjang dari puskesmas sampai ke rumah sakit dan selama di tanah suci membawa obat-obatan yang cukup banyak jika dihitung ada tujuh macam obat berfariasi dari kapsul sampai tablet untuk diminum selama dua bulan sehingga sepulang dari tanah sucipun masih dilanjutkan untuk diminum. Efek dari obat-obatan yang diminum oleh ibu mertua dalam waktu yang lama semenjak jauh sebelum menunaikan ibadah haji menyebabkan iritasi lambung beliau sehingga selama satu bulanan pulang pergi kami bawa ke rumah  sakit dan juga konsultasi beberapa dokter. Dokter Widodo yang praktik di dekat rumah memberikan diagnosa dan penanganan pengendalian obat yang dikonsumsi ibu. Alhamdulillah saran dokter kami ikuti dan sebulan lebih ibu mertua tidak mengkonsumsi obat-obatan lagi, namun kami menyiapkan susu Anlene 51+ bubur bayi makanan sehat dan minum air yang cukup terutama air leri pembersihan yang ke dua (pesusan) beras yang ke dua di masak sampai mendidih menjadi konsumsi utama beliau, juga dengan memberikan pemahaman kepada ibu untuk berperilaku hidup sehat. Alhamdulillah saat sekarang ini ibu mertua, Hj. Atmodiharjo terlihat dengan wajah yang segar sehat dan setiap hari sebelum shubuh sudah siap menuju jama’ah di masjid atau mushalla juga mengikuti pengajian-pengajian.  Alhamdulillahirabbil ‘alamin di usia lansia Allah memberi karunia kesehatan. Semoga nanti Allah saat memanggil beliau juga dalam kondisi yang sehat, amin.

One comment

  1. Kakak beradik yaitu ibu mertua dan bulik Ngatinem terlihat intim bernostalgia menjelang ramadhan 1436 H, bulik Ngati di antar adik Wiji yang selama ini tinggal di kota Yogyakarta dan ketika menjelang puasa bulik Ngati dijemput adik Widodo anak lik Ngati yang tinggal di desa Kleco Weru Sukoharjo Jawa Tengah.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: