h1

Kliping Koran Republika

March 13, 2012

Di saat senggang penulis bisa membaca kembali kliping-kliping Republika dengan judul ; Muslimah dan Wanita Kristiani Baca Kitab Bersama, Menyoal Kemiskinan dan Kapitalisasi Perempuan, Mengenaskan, Ratusan Perempuan Lombok Jadi Kepala Keluarga, Khitan Perempuan: Boleh atau Tidak?

Muslimah dan Wanita Kristiani Baca Kitab Bersama
Selasa, 13 Maret 2012 05:30 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, AMSTERDAM — Dengan membaca kitab suci bersama, sejumlah perempuan Kristiani dan Muslimah mencoba mencari titik temu antara dua agama samawi ini. Mereka duduk berhadapan di kantin pusat Gereja Kristen Protestan (PKN) di Utrecht, Belanda tengah.
Mereka adalah peserta dialog antar Islam dan Kristiani yang sedang istirahat sambil menikmati makan malam ala Indonesia. Profesor Syafaatun Mirzana, seorang ilmuwan Islam Indonesia, adalah salah satu peserta dalam dialog tersebut. Dia mengakui ajaran Kristiani dan Islam itu berbeda, tapi tidak selalu bertentangan.
“Membaca itu dalam arti kita saling memahami antara satu sama lain,” kata Syafaatun seperti dikutip Radio Netherland Worldwide. ”Karena baik di dalam kitab suci Kristiani maupun Islam, ada cerita-cerita yang mirip. Inilah yang dicoba untuk dipotret bersama.”
Syafaatun mencontohkannya soal masalah penciptaan. Pada surat Al Baqarah, itu dibicarakan bagaimana Adam diciptakan. Lalu, Genesis di bible juga berbicara tentang penciptaan.
Bukan hanya teks-teks di al Quran saja yang dibahas dan dicari perbandingannya dengan kitab suci Kristiani, tapi juga hadis Nabi. Temanya tentu saja tidak terbatas pada masalah penciptaan. ”Misalnya topik perempuan. Bagaimana perempuan dibicarakan di kitab suci masing-masing,” katanya.
Sementara penyelenggara dialog, Dr. Gé Speelman, mengatakan tujuan dialog bukan untuk membuat semua orang memeluk satu agama saja.
“Dialog untuk belajar saling menghormati. Ini susah terjadi,” kata dosen universitas teologia protestan Belanda itu. ”Kalau tidak terjadi dialog langsung, maka hal yang ditonjolkan adalah perbedaan sehingga terjadilah saling menuding.”
Redaktur: Didi Purwadi
Sumber: http://www.rnw.nl

Menyoal Kemiskinan dan Kapitalisasi Perempuan
Kamis, 08 Maret 2012 17:59 WIB
Upaya pemberdayaan perempuan di pedesaan oleh aktivis LSM dalam sepuluh tahun terakhir, dianggap banyak kalangan berhasil ”mengeluarkan” perempuan dari “kungkungan” domestik. Pelatihan-pelatihan ”keterampilan hidup (life skill)” yang belakangan juga mendapat dukungan pemerintah, berhasil membuka mata perempuan pedesaan terhadap dunia di luar reproduksi. Indikator keberhasilan tersebut mengacu pada banyaknya perempuan pedesaan yang bekerja di luar rumahnya.
Kesamaan akses pendidikan dan pekerjaan antara laki-laki dan perempuan, menjadi barometer dalam melekatkan ”stigma” bahwa perempuan pedesaan saat ini dianggap telah menjalani hidup ”liberal”. Asumsi liberal yang dibangun adalah, ketika perempuan berdaya secara ekonomi, maka otomatis juga memiliki kewenangan terhadap tubuh dan dirinya, tidak lagi berada di bawah payung ”patriakhat” yang cenderung dominatif kepada kaum hawa. Wacana “gender equality” di pedesaan tersebut di atas, mengundang praduga ilmuwan sosial dan praktisi tentang adanya keterkaitan program ”emansipasi” ini dengan upaya memuluskan jalan kapitalisasi di dunia ketiga, khususnya Indonesia.
Kasus TKW
Ilmuwan sosial memiliki tiga cara pandang terhadap perempuan pedesaan yang kerap mengalami subordinasi, beban ganda, diskriminasi, stereotiping dan kekerasan. Pandangan pertama diberikan oleh kelompok feminis Marxis yang melihat ketertindasan perempuan disebabkan karena posisinya berada di ruang domestik. Pandangan kedua, kelompok feminis liberal menganggap manusia memiliki harkat dan martabat sama maka penindasan dan perlakukan berdasar jenis kelamin adalah bagian dari pelanggaran HAM. Pandangan ketiga oleh feminis sosialis.
Pandangan feminis sosialis lebih radikal dari dua kelompok feminis di atas. Kelompok ini mengaitkan penindasan perempuan dengan perangkat relasi sosial yang kompleks, tidak sekedar relasi kelas yang dijelaskan oleh penganut Marxian. Menurut feminis sosialis, ketertindasan perempuan disebabkan karena ada ketimpangan relasi ekonomi, peran dan identitas gender yang telah mewujud menjadi tradisi dan struktur sosial serta relasi kekuasaan.
Di Cianjur Selatan, meski daerah ini dikenal pemasok TKW terbesar, tapi kehidupan sosial kaum perempuan tidak jauh dari kemiskinan. Di sini, analisis feminis Marxis meleset. Meski kaum perempuan banyak yang keluar dari rumah (menjadi TKW dengan gaji besar), tapi mereka tetap miskin dan tidak memiliki hak atas tubuh dan hartanya. Ketika penulis melakukan studi lapang di daerah Cianjur Selatan (2010), para perempuannya tengah bekerja di luar negeri, sementara suami mereka rupanya sebagian besar senang mengunjungi tempat-tempat pelesir ”di warung remang-remang”.
Struktur sosial masyarakat sangat longgar terhadap manipulasi data perkawinan, karena di lapangan ditemukan fakta para suami TKW banyak yang melakukan poligami. Bahkan, poligaminya dengan empat perempuan tanpa adanya ijin dari istri sah yang sedang bekerja di luar negeri.
Selain istri, pihak yang dirugikan secara langsung dari relasi yang bias gender itu yakni pengasuhan anak yang terlantar. Keharusan fungsional seperti dirumuskan para Sosiolog aliran fungsional struktural Talcot Parson dan Robert Merton (2009), ternyata hanya menempatkan perempuan di posisi yang harus menanggung beban ganda.
Selain bekerja sebagai TKW, para perempuan itu juga harus menggadaikan pengasuhan anak. Anak-anak para TKW sebagian besar di asuh oleh neneknya. Anak-anak ini sangat sedikit yang mengenyam pendidikan. Bahkan di daerah pesisir Cianjur, anak usia 7 tahun banyak yang tidak mengenyam pendidikan (meski pendidikan di Cinajur bebas biaya).
Uang hasil kerja sebagai TKW yang tiap bulannya dikirimkan kepada para suami tak bisa dipertanggungjawabkan. Sepulang sebagai TKW, perempuan desa ini pun kembali karib dengan kemiskinan. Faktor kemiskinan pula yang sangat dominan sebagai penyebab besarnya angka perceraian di masyarakat.
Tetap Di Ruang Domestik
Meningkatnya keterlibatan perempuan pedesaan dalam kegiatan ekonomi, dalam pandangan penulis menandakan perkembangan kuantitatif yang penting dalam kehidupan perempuan. Hal ini bukan hanya menunjukkan kesempatan-kesempatan yang semakin terbuka bagi perempuan, tapi juga karena penting artinya bagi analisis tentang makna perkembangan tersebut. Tidak hanya bagi perempuan saja, tapi juga bagi laki-laki maupun masyarakat secara umum.
Kesempatan perempuan keluar dari arena domestik dan bekerja di luar rumah (atau keluar desa dalam kasus buruh migran), dipengaruhi oleh kesadaran baru perempuan atau karena pergeseran nilai yang memungkinkan perempuan meninggalkan rumah. Kondisi kemiskinan yang mendera kehidupan kaum perempuan dan keluarganya, menjadi alasan utama mengapa mereka memilih menjadi TKW di Arab Saudi, Malaysia, Hongkong dsb. Masalah akibat perceraian juga mendorong kaum perempuan melarikan persoalannya dengan menjadi TKW.
Namun, peningkatan kuantitatif tersebut perlu dicermati pengaruhnya bagi peningkatan kesejahteraan perempuan. Fakta menunjukkan, bahwa peningkatan keterlibatan perempuan, dalam contoh Cianjur Selatan, ini justru dalam pekerjaan kasar yakni bekerja di sektor domestik sebagai pembatu rumah tangga atau pengasuh anak. Realitas seperti ini memberi kita pemahaman ternyata pembagian kerja secara seksual tidak hanya terjadi antara bidang domestik, tapi dalam publik pun terjadi segmentasi yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada ruang yang berbeda. Hampir semua TKW ditempatkan sebagai pekerja domestik yang tidak memiliki ketentuan berapa lama ia bekerja dalam sehari.
Meskipun perempuan ”keluar” dari ranah domestik sebagai Ibu rumah tangga, lalu bekerja di luar rumah sebagaimana laki-laki, hal ini tidak bisa dimaknai bahwa perempuan telah memiliki hak yang sama terhadap akses publik seperti konsep para feminis liberal. Sebab, pekerjaan pun merupakan hasil konstruksi struktur sosial yang didasarkan pada jenis kelamin.
Pekerjaan untuk perempuan yang dikonstruksi oleh struktur patriakhat tersebut tidak jauh dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, pengasuh bayi, maupun cuci-setrika baju. Semua pekerjaan tersebut memiliki upah yang rendah, dengan jam kerja yang relatif lebih panjang daripada pekerjaan formal kantoran.
Fenomena pekerja perempuan pedesaan yang menempati posisi sebagai pekerja kasar, juga harus dilihat sebagai upaya melibatkan perempuan “atas nama kesetaraan gender”. Hal tersebut terkait perempuan yang tidak lagi terkungkung di dalam rumah. Namun, sebenarnya itu hanyalah manipulasi dan upaya para kapitalis, yang hendak mengejar target, bagaimana produksi barang dapat ditekan dengan harga yang rendah. Salah satu upayanya ialah dengan mempekerjakan perempuan di dalamnya.
Menilik data-data di lapangan tersebut, tudingan bahwa perempuan desa saat ini liberal, dalam pandangan penulis patut dipertanyakan. Hal ini jika pemaknaan liberal dilekatkan pada aspek laki-laki dan perempuan memiliki harkat dan martabat yang sama.
Susianah Affandy
Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB dan Anggota Pimpinan Pusat Muslimat NU

Mengenaskan, Ratusan Perempuan Lombok Jadi Kepala Keluarga
Selasa, 06 Maret 2012 02:03 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK BARAT—Sebanyak 973 perempuan di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat berperan menjadi kepala keluarga karena menggantikan peran kaum laki-laki dalam mencari kebutuhan hidup keluarga. “Perempuan yang menjadi kepala keluarga ini bukan identik sebagai janda. Ada yang suaminya sudah meninggal dunia, ada yang belum menikah tapi harus membiayai saudaranya karena orang tua mereka meninggal,” kata Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) Kabupaten Lombok Barat, Eva Parangan.
Ia mengatakan, seluruh perempuan yang berperan menjadi kepala keluarga tersebut tergabung dalam wadah Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) yang tersebar di lima kecamatan, yakni Kecamatan Lingsar sebanyak 392 orang dan Kecamatan Gerung 345 orang. Sementara di Kecamatan Labuapi sebanyak 110 orang, Kecamatan Narmada 72 orang, Kecamatan Kuripan sebanyak 54 orang.
Menurut Eva, pihaknya belum bisa memberikan bantuan yang berarti bagi kesejahteraan kaum perempuan yang menjadi kepala keluarga tersebut. Perhatian yang diberikan masih dalam taraf pembinaan dan advokasi jika terjadi permasalahan, terutama yang menyangkut masalah hukum.
Upaya memberikan advokasi jika terjadi permasalahan hukum dilakukan bekerja sama dengan sejumlah mitra BKBPP Kabupaten Lombok Barat, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Apik yang fokus terhadap penanganan masalah perempuan dan anak berhadapan dengan hukum. “Upaya membantu para kaum perempuan agar bisa meningkatkan kesejahteraan ekonominya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kami. Mudah-mudahan ke depan kami bisa mengarah ke sana,” ujarnya.
Namun, kata dia, dari lima kelompok Pekka yang sudah ada, salah satu yang sudah dianggap bisa mandiri dengan membuka usaha ekonomi produktif adalah kelompok Pekka di Kecamatan Lingsar. Kelompok perempuan kepala keluarga tersebut dibina oleh salah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pemerhati perempuan. Selain memotivasi kaum perempuan untuk bisa berwirausaha, LSM itu juga memberikan pendidikan, seperti membaca, menulis dan berhitung bagi yang buta aksara. “Memang kelompok Pekka di Kecamatan Lingsar sudah cukup maju dibandingkan di kecamatan lainnya. Kelompok itu sudah berdiri cukup lama,” ujarnya.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: antara

Khitan Perempuan: Boleh atau Tidak?
Minggu, 26 Pebruari 2012 04:47 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yusuf Assidiq
Masalah khitan terhadap perempuan terus menuai perdebatan dan pertanyaan. Tak sedikit keluarga Muslim di Tanah Air merasa bingung ketika memiliki bayi perempuan. Sebab, kini petugas kesehatan yang menangani kelahiran bayi telah dilarang untuk mengkhitan bayi perempuan.
Sejak terbitnya Surat Edaran (SE) Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes RI Nomor HK 00.07.1.31047 a, tertanggal 20 April 2006, tentang Larangan Medikalisasi Sunat Perempuan bagi Petugas Kesehatan hampir sebagian besar bayi perempuan tak lagi dikhitan. Menurut surat edaran itu, sunat perempuan tidak bermanfaat bagi kesehatan, justru merugikan dan menyakitkan.
Lalu bagaimana menurut agama Islam? Munculnya larangan khitan terhadap perempuan yang diberlakukan Depkes itu telah mengundang perhatian para ulama di Tanah Air. Pada 2008, Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara khusus mengkaji masalah itu. Wadah musyawarah para ulama zu’ama dan cendekiawan Muslim itu akhirnya menetapkan fatwa tentang hukum pelarangan khitan terhadap perempuan.
”Khitan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk fitrah (aturan) dan syiar Islam,” ungkap Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Anwar Ibrahim dalam fatwa bernomor 9A Tahun 2008 itu. Sedangkan khitan terhadap perempuan adalah makrumah, pelaksanaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan.
Fatwa ulama itu menegaskan, pelarangan khitan terhadap perempuan bertentangan dengan ketentuan syari’ah. Alasannya, khitan bagik bagi laki-laki maupun perempuan termasuk aturan dan syiar Islam. Tentang adanya kekhawatiran khitan perempuan akan membahayakan perempuan dan bayi perempuan serta kesehatan reproduksi mereka dijawab ulama dengan anjuran batas dan tata cara mengkhitan.
”Khitan perempuan dilakukan cukup dengan menghilangkan selaput (jaldah/colum/praeputium) yang menutupi klitoris,” papar KH Anwar Ibrahim. Dalam fatwa itu, para ulama menegaskan, khitan perempuan tak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang bisa mengakibatkan dharar (bahaya).
Sebagian ulama dan fukaha, mengungkapkan, khitan bagi wanita akan menjadi kebaikan bila dilakukan. Dalam sebuah hadis riwayat Syaddad bin Aus dijelaskan, ”Khitan adalah sunnah bagi kaum lelaki, dan merupakan kebaikan bagi kaum wanita.”
Khitan terhadap laki-laki telah dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Sedangkan khitan untuk perempuan pertama kalinya dilaksanakan Siti Hajar. Dalam satu riwayat diungkapkan, bermula ketika Siti Sarah, isteri Ibrahim, memberikan izin kepada Ibrahim untuk menikahi Siti Hajar. Siti Hajar pun hamil. Ini menimbulkan kecemburuan Siti Sarah. Ibrahim menyarankan agar Siti Sarah melubangi kedua telinga dan menyunat kemaluan Siti Hajar.
Ibrahim Muhammad al-Jamal dalam bukunya berjudul Fiqh Wanita menyarankan agar tetap berpegang pada tuntunan hadis Nabi SAW. ”Rasulullah telah menerangkan, khitan bagi wanita akan mendatangkan kebaikan (makramah),” tegasnya. Di samping itu juga dapat mewujudkan kebersihan serta kesucian.
Islam punya alasan khusus ketika menganjuran khitan. Muhammad al Jamal dan Sayyid Sabiq sepakat, bahwa ada maslahat pada lingkup ini, terutama terkait aspek kesehatan dan biologis. ”Karena dengan berkhitan, mereka (kaum wanita) bisa menjaga kebersihan dan kesucian diri,” ungkap al -Jamal.
Mengutip pendapat Imam al-Syatibi, Prof Zaitunah Subhan dalam bukunya Fiqh Pemberdayaan Perempuan,menilai, dengan menekankan aspek maslahat, terutama secara medis dan syariat, tidak melihat alasan untuk tidak menganjurkan khitan bagi wanita. ”Sebab syariat pada dasarnya bertujuan untuk mencapai kebaikan di dunia dan akhirat.”
Ulama terkemuka Syekh Yusuf al-Qardhawi mengakui masalah khitan perempuan telah mennjadi perdebatan panjang di kalangan dokter dengan ulama. Ada dokter yang setuju, ada pula yang menentangnya. Begitu pula dengan ulama ada yang menganjurkan ada yang melarang.
”Barangkali pendapat yang paling moderat, paling adil dan paling dekat kepada kenyataan dalam masalah ini ialah khitan ringan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis,” ungkap Syekh al-Qaradhawi. Meski hadis itu tak sampai ke derajat sahih, papar dia, Nabi SAW pernah menyuruh seorang perempuan yang berprofesi mengkhitan wanita.
Rasulullah SAW bersabda, ”Sayatlah sedikit dan jangan kau sayat yang berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami.”
Redaktur: Heri Ruslan
STMIK AMIKOM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: