h1

Kliping Koran Republika

March 3, 2012

Semenjak Koran Nasinal Republika terbit tahun sembilan puluhan dan sampai sekarang penulis gemar membacanya baik melalui langganan sendiri pada awalnya maupun dengan membaca di perpustakaan madrasah, sebab mudahnya informasi sekarang ini sehingga koran Republika mudah diakses melalui alamat republika.co.id. Kliping-kliping lama penulis dari koran republika tertumpuk di berbagai tempat dan terkadang malah berubah warna dan rusak bahkan riskan hilang. Kali ini penulis mencoba memasukkan beberapa tulisan yang bermanfaat dalam melaksanakan tugas-tugas penulis sebagai guru atau untuk bahan ceramah dan khutbah di masjid. Tema dan judulnya memang beragam diantaranya adalah : Wanita Menjadi Saksi, Utamakan Kelembutan, Muadz Sang Mujtahid, Keteladanan yang tak Lekang.

Keteladanan yang tak Lekang
Jumat, 02 Maret 2012 09:09 WIB
Oleh: Dr Ulil Amri Syafri

Keteladanan Nabi Muhammad saw tak lekang dimakan waktu. Sikap, sabda dan sifat beliau menjadi nasehat dan pelajaran hidup sepanjang masa.
Pada bulan Rabiul Awwal di tahun wafatnya beliau, Rasulullah saw berkeinginan mengirim seorang sahabatnya ke negeri Yaman untuk menyampaikan ajaran Islam.

Setelah melalui proses renungan, pilihan beliau pun jatuh kepada sahabat Mu’adz bin Jabal RA. Imam Malik dalam riwayatnya, mengisahkan ketika itu Rasulullah mengantarkan kepergian Mu’adz sampai ke ujung Kota Madinah.

Dalam perjalanan menjelang gerbang kota, Mu’adz berkata, “Wahai Rasulullah, apa nasihat yang Mulia padaku?”

Rasulullah menjawab, “Bertakwalah kamu kepada Allah SWT dalam kondisi apa pun!”

Mu’adz bertanya kembali, “Apalagi ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya!”

Mu’adz kembali bertanya, “Apalagi, ya Rasulullah?”

Sambil menuntun kuda yang ditunggangi Mu’adz hingga gerbang Kota Madinah Rasulullah saw menjawab, “Bergaullah kamu dengan manusia dengan akhlak yang baik!”

Keteladanan Rasulullah pada kisah di atas tergambar pada cara beliau menentukan ulama, guru, dan pemandu umat yang paham terhadap agama Islam. Karena pada saat itu disebutkan oleh para ulama, Mu’adz adalah sahabat Rasulullah saw yang paling memahami hukum syariah, a’lam al-ummah fî al-halâl wa al-harâm’. Kisah Mu’adz ra ini seakan memperlihatkan pada kita bahwa Rasulullah ingin Islam ini kelak diajarkan oleh mereka yang paham Islam.

Imam Nawawi juga memberi analisisnya pada kisah Mu’adz tersebut, bahwa nasehat Rasulullah saw adalah pesan yang universal. Sahabat Mu’adz ra yang seorang alim lagi saleh saja masih minta dinasehati, lalu bagaimana dengan kita? Selain itu, Rasulullah saw juga tidak merasa rendah meskipun sebagai Rasul dan pemimpin umat, beliau menuntun kuda Mu’adz hingga ia merasa malu dan tersanjung dengan sikap beliau tersebut.

Kini banyak pemandu umat yang tidak paham Islam dan tak pula berpikir secara Islami. Dan aturan yang ada terkadang sudah membuat pemimpin dan yang dipimpin saling berjauhan, tak jarang melahirkan curiga berlebihan, bahkan hingga saling tidak percaya.

Kisah Mu’adz di atas juga memberi bimbingan pada kita bahwa seorang alim sekalipun tetap membutukan nasehat. Kini sosok Rasulullah saw yang bisa kita mintai nasehat telah tiada, namun pesan beliau pada umatnya adalah untuk selalu menjadikan Alquran dan hadits sebagai nasehat abadi bagi yang hidup. Maka, taat pada Alquran dan hadits tanpa menambah-nambah ajaran beliau adalah bentuk usaha kita dalam menauladani Nabi Muhammad SAW. Wallâhu a’lam bî al-shawwâb

Muadz Sang Mujtahid
Jumat, 02 Maret 2012 04:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas

Muadz adalah remaja asal Yatsrib yang cerdas, pandai bicara, dan berkemauan keras. Dia berkenalan dengan Islam melalui Mush’ab bin Umair, dai muda dari Makkah. Muadz ikut rombongan 72 orang delegasi dari Yatsrib berbaiat kepada Nabi di Aqabah. Mereka bersumpah setia dengan Nabi, dan siap berjuang membela Nabi jika beliau nanti sudah hijrah ke Yatsrib.

Sekembalinya dari Makkah, Muadz bersama dengan beberapa orang remaja sebayanya membentuk suatu kelompok untuk menghancurkan berhala dan membuangnya dari rumah kaum musyrikin Yatsrib. Salah satu korban aksi Muadz dan teman-temannya adalah Amr bin Jamuh, pemimpin Bani Salamah. Orang tua ini mempunyai sebuah berhala dari kayu yang bagus dan mahal harganya. Patung itu diberinya pakaian sutra halus dan diberi wewangian setiap pagi. Dia merawat patung itu dengan penuh hormat.

Pada suatu malam yang gelap gulita, remaja kelompok Muadz mencuri patung tersebut dan membuangnya ke tempat kotoran di belakang rumah Amr. Pagi-pagi Amr mencari-cari patungnya dan kemudian menemukannya di tempat kotoran. “Celakalah orang yang menganiaya tuhan kami,” umpat Amr dengan marah. Patung itu diangkatnya dari kotoran, dimandikan, diberi wewangian, kemudian dikembalikan ke tempat semula.

Peristiwa itu terjadi berkali-kali. Akhirnya, Amr menggantungkan pedang pada leher patung itu sambil berkata: “Hai Manat, demi Allah, aku tidak tahu siapa yang menganiayamu. Jika engkau memang sanggup, maka lindungilah dirimu sendiri dengan pedang ini…!” Malamnya Muadz dan kawan-kawan kembali mengambil patung itu, mengikatnya jadi satu dengan bangkai anjing, lalu membuangnya kembali ke tempat kotoran. Setelah menemukannya, Amr pun tersadar. “Seandainya engkau benar-benar tuhan, tentu engkau tidak sudi diikat bersama bangkai anjing di dalam comberan bergelimang kotoran seperti ini.” Dari sini, ia pun kemudian memeluk Islam.

Setelah Nabi hijrah ke Yatsrib dan kemudian mengganti nama kota itu menjadi Madinah, Muadz banyak mendampingi Nabi dan menimba ilmu dari beliau, terutama dari aspek syariah. Dengan cepat Muadz menjadi salah seorang sahabat yang paling pandai membaca Alquran dan memahami isinya. Muadz belajar dengan tekun pada Rasulullah SAW. Beliau menimba ilmu dari sumber yang mulia. Muadz menjadi murid yang baik dari guru yang paling baik.

Tatkala delegasi raja-raja Yaman datang kepada Nabi menyatakan diri masuk Islam bersama rakyatnya, mereka meminta kepada Nabi untuk mengirim guru-guru mengajarkan agama kepada mereka. Nabi mengirim beberapa dai yang dipimpin oleh Muadz.

Tatkala melepas Muadz, Nabi bertanya, “Berdasarkan apa engkau menetapkan hukum hai Muadz?” Muadz menjawab, “Berdasarkan Kitab Allah.” “Jika tidak engkau temui dalam Kitab Allah?” tanya Nabi lagi. Muadz menjawab, “Dengan sunah Rasulullah.” “Jika tidak engkau temui juga dalam sunah Rasulullah?” Muadz tanpa ragu menjawab, “Aku berijtihad menggunakan akal pikiranku.” Nabi Muhammad SAW senang dan memuji Allah atas jawaban Muadz tersebut. Dialog inilah yang kemudian menjadi dasar hukum ijtihad para ulama.

Wanita Menjadi Saksi
Rabu, 29 Pebruari 2012 15:06 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof DR H Fauzul Iman MA

Di era reformasi ini, bangsa Indonesia boleh berbangga karena telah banyak wanita yang terlibat dalam tugas membangun bangsa. Di antara mereka ada yang menjadi menteri, pengusaha, hakim, politisi, pengamat, dai, dan polisi. Keterlibatan para wanita dalam suatu posisi ini, menurut ajaran agama, dipandang telah menduduki posisi sebagai saksi di tengah umat/syuhada ala an-nas (QS 22:78).

Berdasarkan ayat ini, baik laki-laki maupun wanita, diperkenankan untuk menjadi saksi sebagai pemimpin dan penyeru yang benar dan adil guna memperbaiki kehidupan umat. Raghib al-Ashfihani dalam bukunya Mu’jam Mufradat Alfadz al-Quran menjelaskan pengertian saksi sebagai sosok yang hadir untuk menyaksikan sesuatu, baik dengan penglihatan maupun dengan pemikiran cermat (benar). Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang menjadi saksi sebagai pemimpin, baik laki-laki maupun wanita, harus memiliki pandangan tajam, pemikiran cermat (cerdas), dan sikap yang jujur (adil). Sarat ini wajib dimilki oleh setiap saksi karena ia harus melihat, menginformasikan, dan merubah ketimpangan yang terjadi di lapangan dengan teliti, benar, dan jujur.

Lalu, bagaimana dengan para wanita kita yang kini berada pada posisi penting? Sudahkah mereka menunjukkan kesaksian sikap dan pandangannya dengan baik di tengah masyarakat? Apakah kesaksian para wanita pada posisi strategis telah benar-benar menjadi saksi untuk melakukan perubahan terhadap ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat?

Dari sisi kuantum kita bangga terhadap wanita kita yang berperan pada posisi strategis telah bertambah dibanding dengan era sebelumnya. Akan tetapi, dari sisi kualitas, akhir-akhir ini kita prihatin terhadap sebagian wanita yang tidak lagi berdaya menunjukkan posisi strategisnya sebgai saksi umat yang cermat, adil dan jujur. Para wanita yang diharapkan melakukan perubahan bangsa dari segala krisis yang melanda malah kini mereka menjadi bagian yang membuat krisis itu sendiri. Isu-isu yang tidak sedap kepada para wanita yang berposisi penting berupa keterlibatannya pada kriminalitas korupsi telah mencoreng citra wanita sebagai ibu pelembut kedamaian dan penjaga moral bangsa.

Para wanita itu kini terseret ke sentrum perbincangan pejoratif yang ujung-ujungnya mereka tertuduh memasuki ranah hukum peradilan. Padahal, posisi penting yang diraihnya hasil perjuangan letih ketika mereka menuntut kuota wanita di lembaga perwakilan rakyat. Bahkan, tidak jarang perdebatannya menyangkut gender telah mengundang ketegangan yang meradang antara pemkir modern dengan pemikiri fanatic. Setelah posisi kuota itu kini setengahnya direbut ternyata dijungkirkan kembali secara sia-sia oleh segelintir wanita “penting” yang tidak lagi berdaya meneguhkan kesaksian moralnya dengan jujur dan adil di tengah bangsa.

Inikah sebenarnya pertanda kelemahan wanita karena kodratnya yang cepat melimbung dalam kepanikan. Lalu, ia begitu saja menyerah dan terpelanting pada situasi terburuk sehingga harus berurusan dengan hukum demi mengejar kepuasan sesaat yang menyilaukan. Inikah model wanita yang telah mencederai sederet perjuangan panjang wanita Indonesia yang dengan darah dan keringatnya telah memperjuangkan bangsa dari ketertindasan.

Para Wanita yang diharapkan menjadi penyejuk laki-laki (suami) dan anak-anaknya kini malah sebagian dari mereka berlomba dengan laki-laki melakukan kejahatan korupsi bersama. Na’udzubillah. Wallahu a’lam

Utamakan Kelembutan
Selasa, 28 Pebruari 2012 04:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ali Trigiyatno

Maraknya aksi kekerasan belakangan ini mengundang keprihatinan kita bersama. Hampir tiap hari kita disuguhi berbagai kabar tindak kekerasan, baik itu berbentuk penyerangan, pengeroyokan, tawuran, maupun tindakan anarkistis lainnya.

Pelakunya pun cukup beragam dilihat dari usia dan jabatannya. Publik bertanya, ada apa dengan karakter masyarakat kita ini. Bukankah dulu kita berbangga karena dikenal bangsa lain sebagai bangsa yang santun, lembut, dan ramah? Lantas, ke mana semua sifat mulia itu sekarang ini?

Alquran sebagai pedoman hidup kita mengajarkan bagaimana menghadapi persoalan. “Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” [QS Ali Imran: 159].

Lewat ayat ini Allah mengingatkan kita agar mengedepankan sikap lemah lembut dan menjauhi kekasaran atau kekerasan seperti tecermin dari sikap yang dimiliki Rasulullah SAW. Kita juga diajarkan untuk suka memaafkan kesalahan orang lain sekaligus memintakan ampun atas dosa dan kesalahannya.

Dan, jangan lupa untuk mengedepankan sikap musyawarah, diskusi, dan dialog dengan santun menghadapi berbagai persoalan, bukan demonstrasi anarkistis, teror, dan menebar ancaman. Selanjutnya, kita diminta bertawakal setelah membulatkan tekad karena Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.

Kita juga perlu meneladani bagaimana Nabi kita membalas perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain. “Dari ‘Urwah bin Zubair bahwa Aisyah ra istri Nabi SAW berkata, ‘Sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah, mereka lalu berkata, ‘Assaamualaikum (semoga kecelakaan atasmu)’. Aisyah berkata, ‘Saya memahaminya, maka saya menjawab, ‘Waalaikum as saam wal laknat (semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian).’”

“Aisyah berkata, ‘Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara.’ “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan?’” “Rasulullah SAW menjawab, ‘Saya telah menjawab, ‘Waalaikum (dan semoga atas kalian juga).’” [HR Imam Bukhari]

Perhatikanlah, bagaimana Nabi kita walau didoakan dengan kejelekan dan istrinya Aisyah tidak terima perlakuan itu, beliau tetap menasihati istrinya agar tetap menjaga kelembutan hati, tidak terpancing emosi, serta menghindari kekasaran dan pembalasan yang berlebihan.

Nabi kita juga mengajarkan bagaimana menghadapi kejahilan yang dilakukan seorang Badui yang mengencingi Masjid Nabi, seperti termaktub dalam sahih Bukhari, dari Anas bin Malik bahwa seorang Arab Badui kencing di masjid, lalu orang-orang mendatanginya, maka Rasulullah bersabda, “Biarkanlah.” Kemudian, beliau meminta diambilkan air, lalu beliau menyiramnya.

Mari kedepankan sikap lemah lembut, ramah, santun, dan sabar dalam menyelesaikan setiap permasalahan, bukan dengan kekerasan dan pemaksaan.

Dalam kemacetan dalam penantian atau menunggu yang lama sering penulis manfaatkan untuk membaca dan sering juga membuka blog penulis ini sehingga bahan dan tulisan yang bermanfaat akan menambah wawasan dan pemahaman bagi penulis dan juga bagi pembaca yang budiman. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: