h1

Sepeda Motor – Sepeda Motor

February 8, 2011

Kemaren ketika pulang dari kantor penulis diberitau isteri bahwa ada motor di tengah jalan milik salah seorang warga di kampung kami, ketika saya masuk gang kampung kami masih bisa untuk lewat jadi sepeda motor- sepeda motor yang ada diparkir di pinggir tidak di tengah jalan. Memang terkadang terdapat warga yang sembarangan menaruh motornya tanpa menghiraukan pengguna jalan lain. Amat disayangkan kalau menaruh motor di tengah jalan itu merupakan kesengajaan dan jika itu dilakukan tentu memiliki maksud-maksud tertentu. Penulis yang selalu positip thinking terhadap kondisi yang ada di kampung penulis yang padat hunian. Jika dihitung sebanyak sekian puluh motor yang berada di kampung kami, sehingga selayaknya dihindari menaruh motor yang berjubel dan mengganggu kelancaran lalulintas jalan. Dan Alhamdulillah belum pernah terjadi warga kehilangan motor di kampung kami. Kampung kami yang teposelironya tinggi sampai terkadang meskipun ada warga yang menaiki motor di jalan kampung kami dibiarkan saja, tetapi jika terus dibiarkan yang terjadi adalah kampung menjadi bising manakala ada motor lewat, dari masalah ini tentu terutama ibu-ibu dan anak-anak tidak setuju, terutama keluarga yang masih memiliki bayi atau balita. Tetapi dalam hal ini adalah yang berbicara rasa (istilah Jawa “roso”). Merasa tidak nyaman dan tidak terbiasa manakala menaiki sepeda motor masuk gang kampung kami yang selama ini terjaga dengan baik, kecuali pak pegawai pos yang mengantar surat. Awal-awal penulis tinggal di kampung ini manakala ada sepeda motor dinaiki  dan posisi motor hidup diteriaki “ada pak pos-ada pak pos” tetapi sekarang di kampung kami gang yang sebelah barat masih terjaga. Tetapi kampung kami sebelah timur konon layaknya jalan raya, karena tinggal beberapa warga yang mau turun motor dan menuntun motornya. Sekedar usul saja bahwa, sudah saatnya perlu dipasang peringatan tertulis jika dikehendaki warga seperti “Matikan Mesin”, “Harap Turun dari Motor”, “Hargai Sopan-Santun”, “Lebih Sopan Turun dari Motor dan Matikan Mesinnya” dan masih ada contoh lainnya untuk kenyamanan penghuni kampung. Demikian pula pada kampung-kampung lain yang padat penduduknya, jika ditempat itu sudah terkondisikan dengan baik maka semua warga akan nyaman dan tentram hidup dan tinggal di kampung itu, tetapi manakala di kampung itu bising dan bahkan pengap lembab kumuh dan kotor tentu akan mudah mendatangkan penyakit dan ketidaknyamanan bagi penghuni kampung itu sendiri, dan merasa malu jika kampungnya kumuh kotor dan tak ada aturan. Semoga kita semua mampu menjaga kampung kita yang bersih, sehat, aman, nyaman untuk dihuni. Sekedar contoh: pertama kali penulis menghuni kampung ini awalnya stress sebab tidak terbiasa menuntun sepeda motor, sebab selama ini sepeda motor selalu dinaiki sampai tempat berhenti atau parkir, baik di kampung halaman tempat tinggal orang tua penulis, di tempat kos penulis, dan juga di tempat-tempat yang boleh dinaiki. Ketuka penulis masuk dan tinggal di ndalem benteng kraton terdapat kebiasaan yang tidak tertulis dan sudah merupakan konfensi seperti tidak diperbolehkan naik sepeda motor pada zona-zona tertentu, seperti halnya di kampung yang penulis huni sekarang. Cukup lama penulis mengadakan proses penyesuaian lingkungan dan sampai sekarang sudah terbiasa menyesuaikan kondisi lingkungan kami yang awalnya penulis rasakan stress, untuk mematikan turun dan menuntun sepeda motor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: