jump to navigation

Delapan Standar Pendidikan Acuan Akreditasi Sekolah/Madrasah October 21, 2009

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Terdapat delapan komponen sesuai dengan standar nasional pendidikan yang dijadikan acuan dalam Akreditasi Sekolah/Madrasah, yang meliputi:

1. Standar Isi

2. Standar Proses

3. Standar Kompetensi Lulusan

4. Standar Tenaga Kependidikan

5. Standar Sarana dan Prasarana

6. Standar Pengelolaan

7. Standar Pembiayaan

8. Standar Penilaian Pendidikan

Dari Draft Instrumen Akreditasi Sekolah: BAN-S/M, 2008 komponen terperinci dalam 149 item sebagai berikut: Standar Isi item 1 s/d 15, Standar Proses item 16 s/d 26, Standar Kompetensi Lulusan item 27 s/d 44, Standar Tenaga Kependidikan item 4 s/d 92 , Standar Sarana dan Prasarana 73 s/d 98, Standar Pengelolaan 99 s/d 118, Standar Pembiayaan 119 s/d 129,  Standar Penilaian Pendidikan item 130 s/d 149.

Lebih Nyaman Bekerja October 8, 2009

Posted by zuliadi in Education, MTsN Maguwoharjo.
add a comment

Alhamdulillah dengan terpasangnya AC di ruang kerja kami menambah lebih nyaman dalam bekerja. Selama lebih dari dua bulan penulis lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan kerja di MTsN Sleman Maguwoharjo, yang penuh dengan polusi debu yang relatip tinggi, kami rasakan dari efek batuk-batuk beberapa kali, baik sebelum puasa maupun saat puasa tempo hari. Mulai hari ini di ruangan kami suadah bebas debu. Alhamdulillah, ruangan yang berukuran 6×3 m persegi membuat lebih nyaman dalam menyelesaikan tugas-tugas sebagai kepala madrasah. Semoga dari ruangan yang lebih nyaman dari sebelumnya, akan menelurkan kualitas-kualitas secara positif di berbagai segi, terutama bagi kemajuan madrasah kami MTsN Sleman di Maguwoharjo, amin.

Dan kepada rekan-rekan, teman-teman, baik sesama guru madrasah maupun seluruh stake holder madrasah, marilah kita bersama-sama meningkatkan kualitas dan mutu madrasah, untuk menyongsong masa depan dengan peradaban yang maju dan gemilang, jangan biarkan madrasah kita tertatih-tatih dalam bersama mengarungi proses pendidikan, pembimbingan, dan pembelajaran saat sekarang ini dan nanti.  Syukron.

Menjaga Kesehatan Diri April 17, 2009

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Tiga hari lagi para peserta didik kelas XII SMU/MA akan mengikuti Ujian Nasional. Meskipun pada Ujian Nasional ada Ujian Susulan khusus bagi yang tidak dapat mengikuti karena alasan sakit, tetapi alangkah baiknya para siswa kelas XII SMA/MA tetap mejaga kesehatan diri. Sudah tentu semua siswa telah mempersiapkan diri secara fisik mental dan intelektual untuk mengikuti serangkaian Ujian di kelas XII, sebab setelah Ujian Nasional masih ada Ujian Sekolah/Madrasah dan Ujian Praktik yang tidak bisa dipandang sebelah mata pentingnya ujian-ujian itu. Himbauan dan haran para siswa tetap menjaga kesehatan diri.

guruskima March 25, 2009

Posted by zuliadi in Education.
4 comments

This title remembering writer spend more time for our friend teacher of history of Islamic civilization. Writer trying give spirit for all member training in Jakarta last month, with open new blog with completed name “guruskima.wordpress.com”, for always meeting and share every time although in virtual or by blog. Although only ten title already writer had writing, have as many as more 68 comment, and already 454 times this blog opening. Please for teacher of Islamic Civilization around the world give comment or give material for us with posting material directly on our blog or to e-mail “guruskima@gmail.com”. Sure thanks for attention with history of Islamic civilization from whom have concern with our activity. Thanks.

PEDOMAN PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) Rencana Desain dan Implementasi September 18, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

A. Pendahuluan

Penelitian tindakan kelas PTK bukan penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium, tetapi penelitian yang bersifat praktis dan berdasarkan permasalahan keseharian di kelas.

Dalam PTK siswa tidak diperlakukan sebagai obyek yang dikenai tindakan dan guru sebagai pelaku pengumpul informasi atau data. PTK bukanlah melakukan tindakan satu kali lantas selesai. Peneliti bersama guru berupaya terus untuk memperoleh hasil yang optimal dengan cara dan prosedur yang dinilai efektif. Sehingga dapat terjadi adanya tindakan yang berulag-ulang dengan modifikasi untuk meningkatkan hasil dan efektifitas cara dan prosedur.

PTK bersifat situasional sebab itu peneliti harus mempertimbangkan secara luwes dari waktu, sarana atau prasarana yang dapat digunakan serta permasalahan yang sungguh-sungguh dirasakan dampaknya.

B. Penyusunan PTK

Langkahlangkah umum PTK adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi masalah

2. Menganalisis masalah dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab utama.

3. Merumuskan gagasan-gagasan pemecahan masalah bagi faktor penyebab utama yang gawat dengan mengumpulkan data dan menafsirkannya untuk mempertajam gagasan tersebut dan untuk merumuskan hipotesis tindakan sebagai pemecahan.

4. Kelaikan solusi atau pilihan tindakan pemecahan masalah.

Peneliti perlu membuat desain dan prosedur implementasinya dengan tahap kegiatan sebagai berikut:

1. Merancang model PTK sesuai dengan permasalahan, rencana kegiatan tindakan dan keadaan atau situasi kelas.

2. Mengatur langkah-langkah tindakan yang akan dilaksanakan.

3. Melakukan identifikasi komponen-komponen pendukung yang diperlukan

4. Melakukan pengaturan dan penyusunan jadwal kegiatan yang akan dilakukan.

5. Menyusun desain tindakan sesuai dengan model PTK dan jadwal kegiatan.

Agar pelaksanaan dapat berjalan lancar, maka perlu dilakukan kegiatan sebagai berikut:

1. Mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan seperti kondisi, situasi, materi/bahan, alat dan perangkat dan sebagainya yang perlu diadakan di dalam kelas dan dipakai untuk melaksanakan tindakan.

2. Menyusun prosedur pelaksanan, yaitu urutan kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku tindakan sesuai dengan cara yang telah ditetapkan.

3. Melakukan modifikasi jika dipandang perlu.

4. Melakukan pengelolaan dan pengendalian agar tidak terjadi penyimpangan prosedur, cara, penyalahgunaan alat, pemborosan yang mungkin menghambat pelaksanaan tindakan.

C. Pembuatan Desain PTK

Dalam PTK, desain dapat digambarkan sebagai berikut:



ALUR KERJA PTK

D. Perencanaan Waktu Pelaksanaan

Contoh dengan membuat matrik Gantt Chart sebagai berikut:

NO

KEGIATAN

Bulan …

Bulan …

Bulan …

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Pendekatan

2

Perijinan

3

Diskusi

4

…..

…..

…..

N

Seminar

Bahan Pustaka:

Mc Niff, Jean (1992) Action Research: Principles and Practice London: Routledge.

Soedarsono, FX (1996/1997) Pedomal Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK): Bagian Kedua Rencana Desain dan Implementasi, IKIP Yogyakarta.

Come On Time or Coming Late September 3, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Sometimes someone go to somewhere that purpose before come on time and sometimes coming late. In our civilization must keep on time in all conditions. Like go to school, go to work, go to the office, or sometimes attending invitation and so on. Specially the teacher should find classroom on time precise with time schedule that arranged before.

If someone habit with on time in all activity, make life so balmy and beautiful. But if someone life only and only coming late, make life so hasty and no concentration. Lets for all teacher in madrasah, we trying always coming school and coming to the classroom on time and do not coming late. May our madrasah always comfortable for learning and studying like time schedule arranging before, with always habit with coming on time. Thanks.

Sarang Lidi Menggelar Sarasehan August 30, 2008

Posted by zuliadi in Education.
2 comments

Sarang Lidi merupakan istilah yang mengundang tanda tanya bagi pembaca. Sarang Lidi singkatan dari Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan. Pada hari ini, sabtu 30 Agustus 2008 Sarang Lidi bekerjasama dengan Partnership for Governance Reform menggelar Sarasehan Sekolah Berkarakter bertempat di Kantor Partnership Jalan Tentara Zeni Pelajar No 1A Yogyakarta. Sarasehan yang sedianya dilaksanakan mulai pukul 13.30 bergeser tiga puluh menit, setelah dibuka oleh pengurus Sarang Lidi dilanjutkan paparan oleh Prof. Dr. Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan Propinsi DIY dengan tema “Sinergi Fungsi antara Orang Tua Sekolah Masyarakat untuk Memberdayakan Komite Sekolah”. Menyampaikan peran komite sekolah adalah sebagai; pemberi pertimgangan, pendukung, pengontrol, dan mediator pendidikan.

Pemberdayaan komite sekolah mengandung makna bahwa sesungguhnya komite sekolah dapat dikembangkan peran dan fungsinya secara benar sebagaimana diharapkan oleh semua pihak, komite sekolah dapat menghantarkan kualitas pendidikan yang bermutu dengan memberi makna yang benar tentang mutu pendidikan. Komite sekolah adalah ujung tombak penjaga dan pengendali arah pendidikan
nasional bangsa Indonesia. Sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang mampu menempatkan secara konsekuen dan konsisten amanah konstitusi tentang pendidikan. Setiap sistem pendidikan menggunakan credo pendidikan sawiji yaitu menyatukan diri dengan Tuhan atau menyatukan diantara kita (mengkonsentrasikan diri bertemu dan bersatu dengan Tuhan) sengguh (self confidence) greget (semangat/spirit) dan ora mingkuh (konsisten).

Paparan selanjutnya disampaikan oleh Sri Meida dari partnership memaparkan hasil survei empat sektor pelayanan publik di Propinsi DIY yang meliputi bidang kesehatan, bidang pendidikan, bidang perijinan, dan bidang pertanian. Survei yang menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan pengukuran dari kualitas kinerja provider (the outputs with quality dimensions approach), dan pendekatan kepuasan pelanggan/masyarakat (the client satisfaction approach). Dengan sepuluh indikator

1) Tangibles : Penampilan fasilitas fisik, alat, teknologi dan penampilan pemberi pelayanan

2) Reliability : Kemampuan untuk melaksanakan pelayanan secara akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. 3) Credibility : Perilaku dapat diopercaya dan jujur dari pemberi pelayanan.

4) Competence : Memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan untuk melayani masyarakat.

5) Understanding the Customers : Berusaha untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan masyarakat.

6) Communication : Menyediakan informasi yang dipahami dan /atau didengarkan.

7) Responsiveness : Keinginan untuk membantu masyarakat dan menyediakan service yang tepat.

8) Courtesy : Perilaku sopan dan menghargai masyarakat, keramahtamahan serta suka menolong

9) Security : Kemampuan pemberian pelayanan untuk menyediakan pelayanan publik yang bebas dari bahaya, resiko dan keragu-raguan.

10) Access : Kemampuan menyediakan pelayanan yang mudah dijangkau dan mudah dikontak oleh warga.
Hasil penelitian mampu memberikan rekomendasi untuk keempat bidang pelayanan publik yang diteliti.

Paparan selanjutnya adalah oleh dr. Bambang Sulistiyanto dari Sarang Lidi dengan tema Sekolah Berkarakter (Manajemen Perubahan) dengan penjelasan tentang latar belakang, input, proses, out put, out come, harus berubah, bagaimana mengikuti perubahan, leadership, fungsi leader, followership, siapa yang mengubah, kapan berubah, manusia Jawa, dan Sarang Lidi yang punya komitmen, pedili, punya konsep perubahan, siap bekerja sama, siap membantu.

Prof. Dr. Damarjati Supanjar memberikan tanggapan bahwa dengan pendidikan yang berupaya sunguh-sungguh sistematik mengubah masyarakat semut ke masyarakat lebah, pada komunitas lebah terdapat lebah ratu. Pendidikan hati yang peka menuju revolusi hati nurani. Yang mampu menangkap jaman dengan pandangan kefilsafatan, sabar, syukur dalam segala cuaca. Mati menurut orang Jawa itu layu/lelayu dan mati itu loyo/praloyo malahan jumeneng (berdiri).

Tanggapan-tanggapan berasal dari peserta sarasehan yang pada intinya menuju kepada sebuah sekolah yang berkarakter dengan meletakkan peran dan fungsi sekolah, komite sekolah, yang didalamnya termasuk orang tua atau masyarakat.

RESPONSIBILITY ALL MADRASAH AND STAKEHOLDER August 28, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Frequently we are hearing statement that madrasah is the second level of educations in Indonesia or part of regions in Indonesia. This statement is true or not. Really much of madrasah in all city in Indonesia can not competing with another institute of education else from primary school to high school. The other hand  been confessing many madrasah already had the best quality. The problem is how can we doing for enhance our madrasah that do not have competing with another. Simple answer is the responsibility all madrasah and stakeholder together to enhance by seriousness start now and do not waiting time. Believe if madrasah have power to give form, pattern, colors for civilization in the world. Lets together share with another institutions and may together make memorandum of understanding with institutions that have concern and responsible.

OFF CLASSROOM IS THERE ANY August 21, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Many time I talking about off the classroom for the teacher around us. Actually much of teacher sometimes have time for facing the classroom less then 24 hour, so they have much time off the classroom. Sometimes the teacher estimating if no have classroom is free or not go to school. This is one of lack of our teacher in my own specially our madrasah. This conditions much be evaluation again and all the teacher should know and remember again about responsibility not only in teaching and learning in the classroom but also making preparations before learning precess, and after that evaluation by continual.

Mainly for the teacher should had documentation of all activity in teaching and learning. Preparing material for teaching and learning should been made before process teaching and learning. In all process teaching and learning the teacher should using various of method, so do not forget always evaluating the student.

Today like our friend saying many times to me, writer off classroom. Its mean I am not into the classroom. Although like this ,the writer should going to school. Not only specification the vice principal but also for share and sharing again with another teacher and doing many task in madrasah. May our madrasah always have the best quality by processing in teaching and learning every times although off classroom. Thanks.

Give New Adress of Member August 17, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Do not our feeling times running faster then we done about three and a half year a go. I am remember about our commitment with The Forum Communication of Teacher and Principle of Madrasah who declarate together on 1st of January 2005 in Wisma Haji Jaksa Street Jakarta. Not late if in the moment I have responsibility to invite for communication again for share and together enhance quality of our Madrasah. Thank a lot for Mr. Drs. H. Ahmad Zainuri, M.PdI. from Palembang who always share with me every time, so many times I had connect with Mr. Drs. Mukhlis from Gandapura Nangro Aceh Darussalam, Mr. Drs. Ridwan Ali from Suak Timah NAD, Dra. Nurul Wahidah from Pontianak, and Mr. Drs. Yandri from Jambi. (more…)

Membiasakan Menulis August 14, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Tulisan anda sekecil apapun akan mampu memberikan manfaat bagi diri dan orang lain yang membacanya. Pelatihan yang pernah kami lakukan atas prakarsa Alumni MAN Yogyakarta I yang dimotori oleh Bapak Drs. H. Jarot Wahyudi, SH.MA. di Training Centre Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 1 Januari 2008 diikuti oleh 20 orang guru MAN Yogyakarta I. Pematerinya selain Bapak Jarot Wahyudi adalah Bapak Ahmad Kardimin, M.Hum. (Guru dan Dosen Bahasa Inggris yang telah banyak memiliki banyak karya dan tulisan) dan Bapak Surgana [Boss dan Direktur CV Venus Corporation Penerbit Terkenal di Yogyakarta(lihat: www.surgana.blogspot.com)]. Inilah kesan yang masih terngiang di benak penulis.

Menjembatani kreatifitas para guru madrasah untuk menulis terbitlah Jurnal Guru Madrasah edisi pertama pada bulan Pebruari 2008. Memang pada edisi pertama mayoritas penulisnya adalah guru-guru MAN Yogyakarta I, yaitu; penulis (zuliadi), Drs. Dadang Suyono, Sri Munarsih,S.Pd., Dra. Rahmi Prabawati, Purnomo Basuki, S.Pd., Ely Widayati, S.Pd., Tuslikhatun Amimah, S.Pd., Dzulhaq Nurhadi, S.Th.I., Drs.M.Nawawi, M.SI., Dra. Mutiah, tidak ketinggalan tulisan Bapak Jarot Wahyudi dan Bapak Kardimin serta resesi buku oleh Bapak Surgana. Sampai saat ini untuk mengisi edisi-edisi selanjutnya, masih menunggu karya-karya kreatif dari para guru Madrasah ke alamat surgana@gmail.com atau kardimin_0405@yahoo.com , jarotuinsuka@yahoo.com atau ke gurukreatif@yahoo.com sebab itu kami tunggu karya dan tulisan anda tentang Madrasah dan tulisan para Guru Madrasah untuk mengisi Jurnal Guru Madrasah Republik Indonesia tercinta.

Terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak Drs. H. Jarot Wahyudi, SH.MA., Bapak Drs. Ahmad Kardimin, M.Hum., dan Bapak Surgana. Dan Allah SWT membalas jasa baik beliau semua dan semoga amal beliau membawa manfaat yang besar bagi Madrasah pada saat sekarang dan nanti. Amin.

Membangun Kreatifitas Guru Melalui PTK August 14, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Pendahuluan

Sebagai seorang guru seharusnya menyusun dan membuat persiapan pembelajaran sesuai bidang studi atau mata pelajaran yang diampunya. Bagi guru pemula memang terkadang mengalami banyak kendala, namun berkat bimbingan para guru yang sudah berpengalaman, penyusunan persiapan tidaklah menjadi masalah yang serius. Program yang harus disusun meliputi: program tahunan, program semesteran, program semester yang memuat alokasi waktu, silabus atau pengembangan silabus, dan Rencana Program Pembelajaran (RPP).

Bagi guru yang kreatif dan atau telah mencapai jabatan Guru Pembina pangkat Pembina Golongan IVa seharusnya tidak mangalami kesulitan untuk menyusun karya-karya kreatifnya karena sudah banyak pengalamannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Tinggal mau mengadakan penelitian atau tidak. Sehingga tidak ada istilah pepatah berhenti pada Jabatan Guru Pembina atau Pangkat/Golongan Pembina/IVa.

Bagi guru yang kreatif pelaksanaan pembelajaran dapat dijadikan bahan untuk menulis karya yang sering dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Manakala PTK ini disusun sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian, sejak mengajukan permasalahan peserta didik, proses pembelajaran dan pembimbingan yang dilakukan, sampai dengan hasil pembelajaran dan pembimbingan melalui evaluasi yang berkesinambungan, ini semua merupakan karya yang besar manfaatnya bagi pengembangan pendidikan.

Temukan permasalahan yang anda anggap paling pokok, vital, penting dan mendesak untuk diteliti sesuai dengan bidang studi yang anda ampu. Kemudian lakukan proses penelitian sejak persiapan, menyusun langkah-langkah penelitian, tindak lanjut dan analisis. Jika karya anda sidah tersusun dengan baik dan dijilid dengan rapi, kemudian mendapat pengesahan dari Kepala Madrasah dan Organisasi Profesi Guru di lingkungan anda, karya anda memiliki nilai tambah sebagai sebuah karya pengembangan profesi guru.

Pengertian

Penelitian tindakan kelas dalam literature bahasa Inggris disebut Classroom Action Research. Penelitian ini mampu menawarkan cara dan drosedur baru dalam memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat berbagai indiketor keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa.

Jean Mc Niff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya.

Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang dia lakukan di kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dengan melakukan PTK guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran menjadi lebih efektif. Dengan melakukan PTK guru akan dapat meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajarannya. PTK tidak harus membebani pekerjaan guru dalam kesehariannya, dan PTK dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari. Sebab itu guru tidak perlu takut terganggu dalam mencapai target kurikulernya jika akan melaksanakan PTK.

Dalam PTK guru juga dapat melihat, merasakan dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Jika dengan penghayatan itu guru dapat menyimpulkan bahwa praktik-praktik pembelajaran tertentu seperti: umpan balik yang bersifat ferbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif, cara bertanya guru di kelas tidak merangsang siswa untuk berfikir, dan sebagainya, maka guru dapat merumuskan secara tentative tindakan tertentuuntuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur PTK.

Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih professional, sebab itu PTK terkait erat dengan persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru.

Karakteristik PTK

Problema yang harus diangkat dan diselesaikan melalui PTK harus berangkat dari praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Jadi PTK akan dapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya persoalan yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang dia hadapi di kelas, kemudian dari persoalan itu guru menyadari pentingnya persoalan tertentu untuk dipecahkan secara professional.

Jika seorang guru merasa bahwa apa yang dia praktikkan sehari-hari di kelas tidak bermasalah, PTK tidak diperlukan lagi bagi guru tersebut. Persoalannya adalah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang telah dilakukan selama mengajar di kelas. Dapat terjadi guru melakukan kekeliruan selama bertahun-tahun dalam proses belajar mengajar. Sebab itu guru dapat meminta bantuan orang lain (guru lain atau ahli) untuk melihat apa yang selama ini dilakukan dalam proses belajar mengajarnya di kelas. Sehingga dapat melihat dan merumuskan persoalan pembelajaran di kelas, selanjutnya dapat melakukan PTK secara kolaboratif. Dari sini akan muncul kesadaran terhadap kemungkinan adanya banyak masalah diperbuat selama guru itu melaksanakan proses belajar mengajar.

Karakteristik lainnya adalah adanya tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Jika penelitian itu dilakuakn tanpa disertai tindakan-tindakan tertentu, maka jenis penelitian itu bukan PTK. Misalnya penelitian mengenai tingkat keseringan siswa dalam membolos. Guru mencoba berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya pembolosan sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan efektif.

Tujuan PTK

Tujuan PTK adalah untuk meningkatkan atau perbaikan praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru. Mc Niff menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan. Kata perbaikan disini terkait dengan proses pembelajaran.

Tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Sebab itu focus PTK adalah terletak pada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan dan kemudian dievaluasi apakah tindakan-tindakan alternatif itu dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru.

Terjadinya proses latihan dalam jabatan selama proses PTK berlangsung. Disini guru akan banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran. Guru akan lebih banyak mendapatkan pengalaman tentang ketrampilan praktik pembelajaran secara reflektif, dan bukannya bertujuan untuk mendapatkan ilmu baru dari PTK yang dilakukan. Sebagaimana Borg (1986) menyebutkan bahwa tujuan utama dalam penelitian tindakan ialah pengembangan keterampilan guru berdasarkan pada persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi oleh guru di kelasnya sendiri, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.

Manfaat PTK

Manfaat PTK antara lain:

1. Inovasi pembelajaran.

2. Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah/madrasah atau di tingkat kelas.

3. Peningkatan profesionalisme guru.

Dalam inovasi pembelajaran guru perlu selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan cara mengajarnya agar dia mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kelasnya. Guru melakukan PTK dari kelasnya sendiri, berangkat dari persoalannya sendiri, kemudian menghasilkan solusi terhadap persoalan tersebut, maka secara tidak langsung dia telah terlibat dalam proses inovasi pembelajaran. Dengan cara ini inovasi pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam mengajar di kelas. Inovasi pembelajaran seperti ini akan lebih efektif disbanding dengan penataran-penataran untuk tujuan serupa.

Guru bertanggung jawab dalam pengembangan kurikulum dalam level sekolah dan atau kelas, PTK akan sangat bermanfaat jika digunakan sebagai sumber masukan .

Guru yang professional tentu tidak enggan melakukan perubahan-perubahan dalam praktik pembelajarannya sesuai dengan kondisi kelasnya. Guru yang professional perlu melihat dan menilai sendiri secara kritis terhadap praktik pembelajarannya di kelas. Dan adanya perbaikan pembelajaran dari waktu ke waktu. Perbaikan pembelajaran yang dapat dilakukan akibat dari diadakan PTK akan memungkinkan bagi guru, sebagai peneliti dalam PTK, untuk meningkatkan profesionalismenya secara sistematik dan sistemik.

Penerapan PTK

Ada petunjuk praktis dari Mc Niff yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Berangkatlah dari persoalan yang kecil dulu.

2. Rencanakan PTK secara cermat.

3. Susunlah jadwal yang realistic.

4. Libatkan pihak lain.

5. Buatlah pihak lain yang terkait terinformasi.

6. Ciptakan system umpan balik.

7. Buatlah jadwal penulisan.

Bentuk PTK

Ada beberapa bentuk PTK. Oja dan Smulyan (1989) membedakan adanya empat bentuk PTK, yaitu:

1. Guru sebagai peneliti.

2. Penelitian tindakan kolaboratif

3. Simultan-Terintegrasi.

4. Administrasi Sosial Eksperimental.

PTK berbentuk guru sebagai peneliti peran pihak luar sangat kecil dalam penelitian ini. PTK Kolaboratif melibatkan beberapa pihak guru, kepala sekolah maupun ahli secara serentak dengan tujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran. PTK Simultan Terintegrasi persoalan-persoalan pembelajaran yang diteliti dating dan diidentifikasi oleh peneliti dari luar, guru bukan pencetus gagasan terhadap persoalan apa yang harus diteliti dalam kelasnya sendiri, guru bukan sebagai innovator tetapi peneliti lain di luar guru. PTK Administrasi Sosial Eksperimental menekankan dampak kebijakan dan praktik, dan guru tidak dilibatkan dalam perencanaan, aksi, dan refleksi terhadap pembelajarannya sendiri di kelas.

Penutup

Selamat mencoba bagi yang belum pernah mengadakan penelitian. Bagi anda yang telah mengadakan penelitian teruskan kreatifitas anda dengan mengadakan serangkaian penelitian lanjutan yang masih banyak menunggu untuk terus dikaji dan dikaji ulang.

Bahan Pustaka:

Mc Niff, J. (1992) Action Research: Principles and Practice London: Routledge.

Oja, S.N., Smulyan, L. (1989) Collaborative Action Research: A Developmental Approach. London: The Falmer Press.

Suyanto, (1997/1997) Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Bagian ke-Satu Pengenalan PTK, IKIP Yogyakarta

Menag Beri Penghargaan Bidang Pendidikan (KR, 2005) July 30, 2008

Posted by zuliadi in Education.
add a comment

Menag Beri Penghargaan Bidang Pendidikan

Menteri Agama RI H Maftuh Basyuni memberikan penghargaan kepada lembaga dan perorangan yang berjasa pada pendidikan madrasah dan pendidikan agama Islam pada sekolah umum. Pemberian penghargaan ini diharapkan dapat memacu madrasah menjadi alternative competitor dalam rangka penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Pemberian penghargaan tersebut disampaikan Menteri Agama pada acara puncak peringatan Hari Amal Bhakti Departemen Agama ke-49, yang berlangsung di Jakarta, Senin (3/12). Humas Depag RI dalam siaran persnya yang diterima redaksi menyebutkan, para penerimanya masing-masing, Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Malang H Abd Djalil memperoleh penghargaan perorangan karena dinilai memiliki pengabdian luar biasa terhadap pengembangan madrasah tersebut.

Sedangkan Ria Ayu Pramudita siswi kelas 3 Madrasah Tsanawiyah (MTsN) 1 Malang mendapat penghargaan, karena memperoleh medali emas ada Olimpiade Sains Yunior Tingkat Internasional di Jakarta. Penghargaan juara lomba madrasah berprestasi nasional, tingkat madrasah ibtidaiyah terpilih MIS Pembangunan Ciputat, Jakarta sebagai Juara I, MIS Perwanida Blitar Jatim Juara II, MIN Talang Jawa Lahat Sumsel Juara III dan MIN Gandapura NAD Juara Harapan.

Menurut Direktur Pembinaan Madrasah dan Pendidikan Agama pada Sekolah Umum Depag H Abdul Aziz, khusus pemberian penghargaan kepada Abd Djalil dan Ria Ayu Pramudita dalam rangka memberi motivasi dan sikap kompetitif madrasah sebagai upaya peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan madrasah.

“Untuk membawa pendidikan madrasah unggul dalam Imtaq dan kompetitif dalam Iptek, diperlukan figur guru yang memiliki kepemimpinan yang dinamis, kreatif dan berdedikasi tinggi,” jelasnya. Tingkat Madrasah Tsanawiyah berprestasi, MTsN 2 Medan Juara I, MTsN Barabai, Kalsel Juara II, MTsN Kota Bengkulu, Juara III dan MTsN Cirebon, Jabar Juara Harapan. Madrasah Aliyah terbaik terpilih MAN Sungai Penuh, Jambi, Juara I, MAN I Padang Sidempuan, Sumut, Juara II, MAN Suak Timah, NAD, Juara III, dan MAN Pangkep, Sulsel, Juara Harapan.

Penghargaan kepada guru Madrasah teladan tingkat nasional tahun 2004 diberikan kepada Rahmat Hidayat (MIN Ciamis), Risdiyati (MIN Martapura), Lalu Sundana (MIN Gunung Rajak NTB), Slamet Mujiono (MIN Subangan Bali), Mukhlis (MTsN Gandapura NAD), Ramli (MTsN Merangin Jambi), Elda Ayumi (MTsN Kisaran Sumut), Nurul Wahidah (MTsN Pontianak Kalbar), Armizon (MAN Padang Panjang Sumbar), Ahmad Zainuri (MAN3 Palembang), Zuliadi (MAN 1 Yogya), dan Yandri (MAN Sei Penuh Jambi). Guru pendidikan agama Islam yang terpilih sebagai teladan tingkat nasional adalah Moh Syamsuri (SDN 30, Gunung Sari Ilir, Kaltim), Yasri Mohone ( SD Inpres 7, Sulut) .

Sumber : Kedaulatan Rakyat Januari 2005