h1

Kebersihan dan Keamanan Lingkungan

January 16, 2012

Pertama kali penulis menempati tempat tinggal di tengah kota yang padat penghuni terasa setiap hari merasakan stress. Sebab selama ini atau sebelumnya penulis menempati lokasi yang dekat dengan jalan sehingga ketika menghuni tempat yang padat penduduk dengan gang-gang yang sempit dan motor harus dimatikan sebab menjaga kesopanan di kampung kota. Namun stress itu lama kelamaan hilang manakala sudah terbiasa menempati lingkungan yang padat penghuni seperti di kampung Rotowijayan RW 13 Kadipaten. Beberapa lorong dan sudut-sudut kampung nampak ada perkembangan menuju ke arah bersih dan sehat, namun masih saja ada warga kampung yang belum sadar makna bersih dan aman. Yogyakarta “Berhati Nyaman” memang menjadi motto kota Yogyakarta, namun sampai saat ini masih ada warga atau penghuni kota Yogyakarta yang kurang atau tidak mengindahkan motto tadi. Lantas bagaimana dalam menyadarkan warga yang kurang atau belum peduli dengan motto tadi? Tentu dengan jalan dengan arif saling mengingatkan satu dengan lainnya, sehingga tidak ada sudut kampung di wilayah kota Yogyakarta yang tidak bersih dan tidak aman. Namun terkadang terjadi karena ada kepentingan dari warga di tempat umum atau ruang publik mengalami pengurangan atau penyempitan dari yang paling parah adalah di atas gang atau jalan umum kampung yang dibangun rumah hunian sehingga jalan menjadi gelap dan pengap. Semacam ini jika diikuti oleh warga lain dengan membangun secara permanen di atas tanah atau jalan milik umum yang kurang atau tidak tau aturan yang terjadi adalah mementingkan kepentingan sendiri tanpa melihat kepentingan umum. Apalagi membangun di atas bangunan warga lain yang bersebelahan manakala tidak menjadi berkenannya tetangga sebelah akan menjadi masalah yang berkepanjangan. Kasus warga RW 13 dan RW 12 yang pernah berkali-kali merepotkan pengurus RW ketika itu janganlah terulang lagi, yakni warga RW 13 ketika membangun di atas bangunan warga RW 12, namun akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dengan saling mengindahkan satu sama lain dengan merubah bangunan sehingga tidak terjadi perselisihan. Jalan dan gang umum yang dipergunakan untuk menaruh gerobak maupun speda motor warga atau aktifitas yang tidak banyak mengganggu warga memang mendapat toleransi sepanjang warga tidak mempermasalahkan tetapi jika gang atau jalan umum sudah sempit kemudian diisi dengan pot-pot atau motor yang menutupi jalannya lalu lintas warga ini yang terkadang disebut warga yang ndablek acuh tak acuh dan cuek-cuek saja atau semau gue. Maka dari itu ketika membangun bangunan seharusnya tidak sembarangan dengan tidak memberi ruang untuk pot jika senang menanam pot, untuk menaruh motor jika punya motor. Masalahnya adalah hampir semua warga / KK memiliki motor bahkan ada yang tidak hanya satu, dan tidak ada tempat lain kecuali menaruh motor di gang/jalan umum. Toleransi yang berjalan lama di kampung Rotowijayan RW 13 jangan diusik dengan tingkah atau prilaku warga yang berlebihan sehingga menutup gang atau jalan kampung. Dan yang terpenting pula adalah semua warga dari anak-anak para pemuda-pemudi dan orang dewasa di kampung Rotowiyayan RW 13  harus mampu menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Tidak kalah pentingnya juga semua warga menaruh sisa-sisa bungkus plastik atau kertas juga makanan pada tempat yang pas sehingga nampak bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: