h1

Garengpung

March 29, 2011

Nama hewan serangga yang memiliki suara khas, garengpung orang Jawa menyebutnya, suara garengpung biasanya banyak terdengar ketika akhir musim penghujan dan berarti mengawali musim kemarau. Konon saat musim seperti ini waktu yang tepat untuk memotong pohon sehingga kayu pohon yang dipotong itu awet dan tidak mudah dimakan rayap. Seiring dengan alunan suara garengpung kali ini matahari terkadang cerah terkadang redup demikian juga sering kali terjadi hujan lokal, terkadang hujan lebat disertai angin dan petir. Garengpung.

Imam Santoso telah menulis dalam blognya yang berjudul “Wasiat dan Nyanyian Kematian Garengpung” yang isinya: Pagi yang cerah diiringin nyayian merdu Tonggeret (Jawa :Garengpung. Latin: Cicada) seakan mengingatkan bahwa banjir akan berhenti untuk sementara dan memberikan kabar kepada para pengungsi untuk segera pulang. Garengpung bersenandung manandakan bahwa musim hujan akan segera habis, namun sayang sepertinya kali ini dia bangun terlalu bersemangat dan bernyanyi terlalu dini. Andaikan dia bisa berbicara maka dia akan mengatakan “ kenapa mendung masih saja ada, padahal saat aku bernyanyi biasanya matahari akan selalu tersenyum dengan sinarnya yang terang, disertai dengan birunya langit yang anggun”. Tapi sayang aku tidak bisa mengabarkan dan mejelaskan kepada dia tentang “climate change”, yang telah merubah tatanan lama musim di bumi ini. “ Hai Pung, sekarang jaman millenium semua berubah, musim juga berubah”. Hari itu dia terus bersenandung seolah menyuruh kita mengenali dan menalari dirinya. Dia terus bernyanyi dengan percaya diri karena dia tahu bahwa dia diciptakan agar manusia bisa melihat dirinya dan gareng juga tahu bahwa Tuhanya manusia sesunggunya mewajibkan manusia untuk senantiasa merenungkan tentang apa yang ada di alam semesta termasuk dirinya.  Garengpung dengan beragam keajaiban yang dia miliki seolah menginginkan kita untuk mengetahui tentang teknik yang dia gunakan untuk bernyanyi. Dan bila kita mengetahuinya, Si Gareng akan berkata kepada kita “Tuhanku adalah pencipta alam semesta, pemilik tunggal ilmu pengetahuan dan kamu tidaklah tahu kecuali hanya secuil”. Mungkin dia ingin memamerkan bulunya yang tipis yang terkenal sangat canggih itu. Bulu tipisnya bisa menghasilkan suara dengan intensitas sampai dengan 120 dB (dari jarak sangat dekat). Tak heran bila dia dinobatkan sebagai serangga bersuara ternyaring. Mungkin dia menyuruh kita membandingkan dirinya dengan mesin jet. Sebuah mesin yang dengan jarak 100 m dapat mempunyai intensistas suara 110-140 dB. Dan dia ingin mengakatakan bahwa “tentu saja bila mesin jet mempunyai taraf intensitas sebesar itu adalah wajar, karena bunyi itu dihasilkan dari pergerakan jet engine dengan kecepatan 2200 putaran permenit (turboprop engine) . Namun bunyi dahsyatku ini dihasilkan dari sayapku yang tipis yang senantiasa bergesekan tanpa lelah”. Dia juga juga ingin kita tahu bahwa dia mempunyai tubuh sebesar ibu jari yang berfungsi sebagai ‘resonance chamber’ yang meng-amplifiyer suara, seperti pada amplifier yang ada pada konser-konser musik besar. “Hmmmmm, Gareng patilah dirimu dirancang oleh arsitektur cerdas”. Dia terus bernyanyi dan terus mendendangan kan lagu merdu, yang sejatinya adalah lagu kematian. Dia tidak lelah bernyanyi, dan seolah menyuruh kita untuk merasakan kegelisahan hati tentang apa yang akan terjadi beberapa hari nanti dan menal ari kehidupan yang telah dia jalani sebelumnya. Dia akan mengatakan kepada manusia bahwa, “urip nang ndunyo mung mampir ngombe” (hidup didunia seperti mampir minum). Betapa tidak, Gerangpung harus menunggu selama 8 -17 tahun (tergantung spesies) agar dapat bernyanyi seperti ini. Dia harus menunggu di dalam cangakang telur dan harus rela terkubur sebagai nymphia untuk jangka waktu yang sangat lama agar bisa muncul di pepohonan nan hijau 17 tahun kemudian. Setelah selama 17 tahun terkubur, garengpung jantan akan keluar dari tanah dan mulai berdendang dengan suara yang khas untuk mengundang si betina agar mau menghampirinya lalu menikah denganya. Artinya garengpung yang bernyanyi saat ini adalah hasil pembuahan 8-17 tahun silam. Namun sayang nanyian itu hanya terdengar 3 sampai 6 hari. Karena setelah mereka benyanyi dan melakukan pembuahan, maka sang jantan akan segera mati. Begitupun si setina setelah berhasil menempatkan telurnya pada tempat yang aman dia akan segera menyusul sang kekasih.Bagi garempung, dia mengerti betapa fananya hidup ini. Hidupnya teramat singkat. Hanya beberapa hari saja di udara. Hidupnya hanya “mampir” ,hanya 3 sampai 6 hari saja. Setelah itu dia akan mati dan keturuanya akan bernyanyi 17 tahun lagi. Dia ingin mengatakan kepada manusia“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya” Pada hakekatnya bila kita merenungi kisah garempung, hidup kita sejatinya adalah sama . Hidup kita hanya mampir ke dunia, setelah itu kita akan hilang untuk rentang waktu yang sangat lama, sampai kita dibangkitkan dan mempertanggung jawapkan tentang apa yang telah kita lakukan selama di dunia yang fana ini.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: