Pendahuluan
Sebagai seorang guru seharusnya menyusun dan membuat persiapan pembelajaran sesuai bidang studi atau mata pelajaran yang diampunya. Bagi guru pemula memang terkadang mengalami banyak kendala, namun berkat bimbingan para guru yang sudah berpengalaman, penyusunan persiapan tidaklah menjadi masalah yang serius. Program yang harus disusun meliputi: program tahunan, program semesteran, program semester yang memuat alokasi waktu, silabus atau pengembangan silabus, dan Rencana Program Pembelajaran (RPP).
Bagi guru yang kreatif dan atau telah mencapai jabatan Guru Pembina pangkat Pembina Golongan IVa seharusnya tidak mangalami kesulitan untuk menyusun karya-karya kreatifnya karena sudah banyak pengalamannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Tinggal mau mengadakan penelitian atau tidak. Sehingga tidak ada istilah pepatah berhenti pada Jabatan Guru Pembina atau Pangkat/Golongan Pembina/IVa.
Bagi guru yang kreatif pelaksanaan pembelajaran dapat dijadikan bahan untuk menulis karya yang sering dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Manakala PTK ini disusun sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian, sejak mengajukan permasalahan peserta didik, proses pembelajaran dan pembimbingan yang dilakukan, sampai dengan hasil pembelajaran dan pembimbingan melalui evaluasi yang berkesinambungan, ini semua merupakan karya yang besar manfaatnya bagi pengembangan pendidikan.
Temukan permasalahan yang anda anggap paling pokok, vital, penting dan mendesak untuk diteliti sesuai dengan bidang studi yang anda ampu. Kemudian lakukan proses penelitian sejak persiapan, menyusun langkah-langkah penelitian, tindak lanjut dan analisis. Jika karya anda sidah tersusun dengan baik dan dijilid dengan rapi, kemudian mendapat pengesahan dari Kepala Madrasah dan Organisasi Profesi Guru di lingkungan anda, karya anda memiliki nilai tambah sebagai sebuah karya pengembangan profesi guru.
Pengertian
Penelitian tindakan kelas dalam literature bahasa Inggris disebut Classroom Action Research. Penelitian ini mampu menawarkan cara dan drosedur baru dalam memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat berbagai indiketor keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa.
Jean Mc Niff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya.
Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang dia lakukan di kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dengan melakukan PTK guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran menjadi lebih efektif. Dengan melakukan PTK guru akan dapat meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajarannya. PTK tidak harus membebani pekerjaan guru dalam kesehariannya, dan PTK dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari. Sebab itu guru tidak perlu takut terganggu dalam mencapai target kurikulernya jika akan melaksanakan PTK.
Dalam PTK guru juga dapat melihat, merasakan dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Jika dengan penghayatan itu guru dapat menyimpulkan bahwa praktik-praktik pembelajaran tertentu seperti: umpan balik yang bersifat ferbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidak efektif, cara bertanya guru di kelas tidak merangsang siswa untuk berfikir, dan sebagainya, maka guru dapat merumuskan secara tentative tindakan tertentuuntuk memperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur PTK.
Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih professional, sebab itu PTK terkait erat dengan persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru.
Karakteristik PTK
Problema yang harus diangkat dan diselesaikan melalui PTK harus berangkat dari praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Jadi PTK akan dapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya persoalan yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang dia hadapi di kelas, kemudian dari persoalan itu guru menyadari pentingnya persoalan tertentu untuk dipecahkan secara professional.
Jika seorang guru merasa bahwa apa yang dia praktikkan sehari-hari di kelas tidak bermasalah, PTK tidak diperlukan lagi bagi guru tersebut. Persoalannya adalah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang telah dilakukan selama mengajar di kelas. Dapat terjadi guru melakukan kekeliruan selama bertahun-tahun dalam proses belajar mengajar. Sebab itu guru dapat meminta bantuan orang lain (guru lain atau ahli) untuk melihat apa yang selama ini dilakukan dalam proses belajar mengajarnya di kelas. Sehingga dapat melihat dan merumuskan persoalan pembelajaran di kelas, selanjutnya dapat melakukan PTK secara kolaboratif. Dari sini akan muncul kesadaran terhadap kemungkinan adanya banyak masalah diperbuat selama guru itu melaksanakan proses belajar mengajar.
Karakteristik lainnya adalah adanya tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas. Jika penelitian itu dilakuakn tanpa disertai tindakan-tindakan tertentu, maka jenis penelitian itu bukan PTK. Misalnya penelitian mengenai tingkat keseringan siswa dalam membolos. Guru mencoba berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya pembolosan sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan efektif.
Tujuan PTK
Tujuan PTK adalah untuk meningkatkan atau perbaikan praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru. Mc Niff menegaskan bahwa dasar utama bagi dilaksanakannya PTK adalah untuk perbaikan. Kata perbaikan disini terkait dengan proses pembelajaran.
Tujuan itu dapat dicapai dengan melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Sebab itu focus PTK adalah terletak pada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan dan kemudian dievaluasi apakah tindakan-tindakan alternatif itu dapat dipergunakan untuk memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru.
Terjadinya proses latihan dalam jabatan selama proses PTK berlangsung. Disini guru akan banyak berlatih mengaplikasikan berbagai tindakan alternatif sebagai upaya untuk meningkatkan layanan pembelajaran. Guru akan lebih banyak mendapatkan pengalaman tentang ketrampilan praktik pembelajaran secara reflektif, dan bukannya bertujuan untuk mendapatkan ilmu baru dari PTK yang dilakukan. Sebagaimana Borg (1986) menyebutkan bahwa tujuan utama dalam penelitian tindakan ialah pengembangan keterampilan guru berdasarkan pada persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi oleh guru di kelasnya sendiri, dan bukannya bertujuan untuk pencapaian pengetahuan umum dalam bidang pendidikan.
Manfaat PTK
Manfaat PTK antara lain:
1. Inovasi pembelajaran.
2. Pengembangan kurikulum di tingkat sekolah/madrasah atau di tingkat kelas.
3. Peningkatan profesionalisme guru.
Dalam inovasi pembelajaran guru perlu selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan, dan meningkatkan cara mengajarnya agar dia mampu melahirkan model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kelasnya. Guru melakukan PTK dari kelasnya sendiri, berangkat dari persoalannya sendiri, kemudian menghasilkan solusi terhadap persoalan tersebut, maka secara tidak langsung dia telah terlibat dalam proses inovasi pembelajaran. Dengan cara ini inovasi pembelajaran benar-benar berangkat dari realitas permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam mengajar di kelas. Inovasi pembelajaran seperti ini akan lebih efektif disbanding dengan penataran-penataran untuk tujuan serupa.
Guru bertanggung jawab dalam pengembangan kurikulum dalam level sekolah dan atau kelas, PTK akan sangat bermanfaat jika digunakan sebagai sumber masukan .
Guru yang professional tentu tidak enggan melakukan perubahan-perubahan dalam praktik pembelajarannya sesuai dengan kondisi kelasnya. Guru yang professional perlu melihat dan menilai sendiri secara kritis terhadap praktik pembelajarannya di kelas. Dan adanya perbaikan pembelajaran dari waktu ke waktu. Perbaikan pembelajaran yang dapat dilakukan akibat dari diadakan PTK akan memungkinkan bagi guru, sebagai peneliti dalam PTK, untuk meningkatkan profesionalismenya secara sistematik dan sistemik.
Penerapan PTK
Ada petunjuk praktis dari Mc Niff yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Berangkatlah dari persoalan yang kecil dulu.
2. Rencanakan PTK secara cermat.
3. Susunlah jadwal yang realistic.
4. Libatkan pihak lain.
5. Buatlah pihak lain yang terkait terinformasi.
6. Ciptakan system umpan balik.
7. Buatlah jadwal penulisan.
Bentuk PTK
Ada beberapa bentuk PTK. Oja dan Smulyan (1989) membedakan adanya empat bentuk PTK, yaitu:
1. Guru sebagai peneliti.
2. Penelitian tindakan kolaboratif
3. Simultan-Terintegrasi.
4. Administrasi Sosial Eksperimental.
PTK berbentuk guru sebagai peneliti peran pihak luar sangat kecil dalam penelitian ini. PTK Kolaboratif melibatkan beberapa pihak guru, kepala sekolah maupun ahli secara serentak dengan tujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran. PTK Simultan Terintegrasi persoalan-persoalan pembelajaran yang diteliti dating dan diidentifikasi oleh peneliti dari luar, guru bukan pencetus gagasan terhadap persoalan apa yang harus diteliti dalam kelasnya sendiri, guru bukan sebagai innovator tetapi peneliti lain di luar guru. PTK Administrasi Sosial Eksperimental menekankan dampak kebijakan dan praktik, dan guru tidak dilibatkan dalam perencanaan, aksi, dan refleksi terhadap pembelajarannya sendiri di kelas.
Penutup
Selamat mencoba bagi yang belum pernah mengadakan penelitian. Bagi anda yang telah mengadakan penelitian teruskan kreatifitas anda dengan mengadakan serangkaian penelitian lanjutan yang masih banyak menunggu untuk terus dikaji dan dikaji ulang.
Bahan Pustaka:
Mc Niff, J. (1992) Action Research: Principles and Practice London: Routledge.
Oja, S.N., Smulyan, L. (1989) Collaborative Action Research: A Developmental Approach. London: The Falmer Press.
Suyanto, (1997/1997) Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Bagian ke-Satu Pengenalan PTK, IKIP Yogyakarta